Our Beloved Musholla

Welcome To Our Official Website of BTM Aladdinsyah, S.H. Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Come Join Us

Mari bergabung bersama kami untuk memakmurkan musholla Fakultas Hukum kita yang tercinta ini :D

Kamis, 05 Maret 2015

INFO LOMBA! LOMBA KARYA TULIS ABITA 2015


The Secret of Tauhid by: Asra Saputra (2012)

Bismillahirrahmanirrahim

Perumusan kalimat persaksian (Syahadat) Islam yang kesatu : Tiada Tuhan selain Allah mengandung gabungan antara peniadaan dan pengecualian. Perkataan "Tidak ada Tuhan" meniadakan segala bentuk kepercayaan, sedangkan perkataan "Selain Allah" memperkecualikan satu kepercayaan kepada kebenaran. Dengan peniadaan itu dimaksudkan agar manusia membebaskan dirinya dari belenggu segenap kepercayaan yang ada dengan segala akibatnya, dan dengan pengecualian itu dimaksudkan agar manusia hanya tunduk pada ukuran kebenaran dalam menetapkan dan memilih nilai-nilai, itu berarti tunduk pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta segala yang ada termasuk manusia. Tunduk dan pasrah itu disebut Islam.

Tuhan itu ada, dan ada secara mutlak hanyalah Tuhan. Pendekatan ke arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan, baik yang bersifat intuitif, ilmiah, historis, pengalaman dan lain-lain. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian akan hakekat Tuhan yang sebenarnya. Namun demi kelengkapan kepercayaan kepada Tuhan, manusia memerlukan pengetahuan secukupnya tentang Ketuhanan dan tata nilai yang bersumber kepada-Nya. Oleh sebab itu diperlukan sesuatu yang lain yang lebih tinggi namun tidak bertentangan dengan insting dan indera. Sesuatu yang diperlukan itu adalah "Wahyu" yaitu pengajaran atau pemberitahuan yang langsung dari Tuhan sendiri kepada manusia. Tetapi sebagaimana kemampuan menerima pengetahuan sampai ketingkat yang tertinggi tidak dimiliki oleh setiap orang, demikian juga wahyu tidak diberikan kepada setiap orang.

Wahyu itu diberikan kepada manusia tertentu yang memenuhi syarat dan dipilih oleh Tuhan sendiri yaitu para Nabi dan Rasul atau utusan Tuhan. Dengan kewajiban para Rasul itu untuk menyampaikannya kepada seluruh ummat manusia. Para rasul dan nabi itu telah lewat dalam sejarah semenjak Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa atau Yesus anak Mariam sampai pada Muhammad SAW. Muhammad adalah Rasul penghabisan, jadi tiada Rasul lagi sesudahnya. Jadi para Nabi dan Rasul itu adalah manusia biasa dengan kelebihan bahwa mereka menerima wahyu dari Tuhan.

Jadi untuk memahami Ketuhanan Yang Maha Esa dan ajaran-ajaranNya, manusia harus berpegang kepada Al-Quran dengan terlebih dahulu mempercayai kerasulan Muhammmad SAW. Maka kalimat kesaksian yang kedua memuat esensi kedua dari kepercayaan yang harus dianut manusia, yaitu bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Kemudian di dalam Al-Quran didapat keterangan lebih lanjut tentang Ketuhanan Yang maha Esa ajaran-ajaranNya yang merupakan garis besar dan jalan hidup yang mesti diikuti oleh manusia.

Tentang Tuhan antara lain: surat Al-Ikhlas (112: 1-4) menerangkan secara singkat; katakanlah : "Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dia itu adalah Tuhan. Tuhan tempat menaruh segala harapan. Tiada Ia berputra dan tiada pula berbapa”. Selanjutnya Ia adalah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kasih dan Maha Sayang, Maha Pengampun dan seterusnya daripada segala sifat kesempurnaan yang selayaknya bagi Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Tuhan seru sekalian Alam.

Juga diterangkan bahwa Tuhan adalah yang pertama dan yang penghabisan, Yang lahir dan Yang Bathin (57:3), dan "kemanapun manusia berpaling maka disanalah wajah Tuhan" (2:115). Dan "Dia itu bersama kamu kemanapun kamu berada" (57:4). Jadi Tuhan tidak terikat ruang dan waktu. Sebagai "yang pertama dan yang penghabisan", maka sekaligus Tuhan adalah asal dan tujuan segala yang ada, termasuk tata nilai. Artinya; sebagaimana tata nilai harus bersumber kepada kebenaran dan berdasarkan kecintaan kepadaNya, Ia pun sekaligus menuju kepada kebenaran dan mengarah kepada "persetujuan" atau "ridhanya". Inilah kesatuan antara asal dan tujuan hidup yang sebenarnya (Tuhan sebagai tujuan hidup yang benar). Tuhan menciptakan alam raya ini dengan sebenarnya, dan mengaturnya dengan pasti (6:73, 25:2).

Oleh karena itu alam mempunyai eksistensi yang riil dan obyektif, serta berjalan mengikuti hukum-hukum yang tetap. Dan sebagai ciptaan daripada sebaik-baiknya penciptanya, maka alam mengandung kebaikan pada dirinya dan teratur secara harmonis (23:14). Nilai ciptaan ini untuk manusia bagi keperluan perkembangan peradabannya (31:20). Maka alam dapat dan dijadikan obyek penyelidikan guna dimengerti hukum-hukum Tuhan (sunnatullah) yang berlaku didalamnya. Kemudian manusia memanfaatkan alam sesuai dengan hukum-hukumnya sendiri (10:101).

Manusia adalah puncak ciptaan dan mahluk-Nya yang tertinggi (95:4,17:70). Sebagai mahluk tertinggi manusia dijadikan "Khalifah" atau wakil Tuhan di bumi (6:165). Manusia ditumbuhkan dari bumi dan diserahi untuk memakmurkannya (11:61). Maka urusan di dunia telah diserahkan Tuhan kepada manusia. Manusia sepenuhnya bertanggungjawab atas segala perbuatannya di dunia. Perbuatan manusia ini membentuk rentetan peristiwa yang disebut "sejarah". Dunia adalah wadah bagi sejarah, dimana manusia menjadi pemilik atau "rajanya".

Untuk memperoleh ilmu pengetahuan tentang nilai kebenaran sejauh mungkin, manusia harus melihat alam dan kehidupan ini sebagaimana adanya tanpa melekatkan padanya kualitas-kualitas yang bersifat ketuhanan. Sebab sebagaimana diterangkan dimuka, alam diciptakan dengan wujud yang nyata dan objektif sebagaimana adanya.

Alam tidak menyerupai Tuhan, dan Tuhan pun untuk sebagian atau seluruhnya tidak sama dengan alam. Sikap memper-Tuhan-kan atau mensucikan (sakralisasi) haruslah ditujukan kepada Tuhan sendiri. Tuhan adalah Allah Yang Maha Esa (41:37). Ini disebut "Tauhid" dan lawannya disebut "syirik" artinya mengadakan tandingan terhadap Tuhan, baik seluruhnya atau sebagian maka jelasnya bahwa syirik menghalangi perkembangan dan kemajuan peradaban kemanusiaan menuju kebenaran.

Kamis, 19 Februari 2015

Suka Duka Menjadi Mualaf by: Nuzul Helmi (2012)

Bismillahirrahmanirrahim


Apakah itu Mualaf? Mualaf akar katanya adalah Allafa yang artinya jinak. Pengertian luasnya adalah menjinakkan hati seseorang untuk memeluk Islam. Sedangkan secara syari’at, mualaf adalah orang diberi perhatian khusus oleh islam dengan tujuan menjinakan hatinya demi kemaslahatan islam dan kaum muslimin.

Jika mengikuti mazhab Syafi’I maka makna mualaf ini adalah orang yang baru masuk Islam. Sedangkan menurut Syaikhul Islam Yusuf Al-Qardhawi, mualaf adalah orang yang baru mengetahui dan mempelajari Islam namun belum memeluk Islam. Perbedaan pendapat ini tidaklah menjadi masalah dalam hal memaknai apa itu mualaf. Yang akan saya bahas disini adalah bagaimana mereka bisa menjadi mualaf serta suka dukanya.

Data sensus penduduk Jepang tahun 2014 menyatakan bahwa dalam setiap harinya ada 10 WN Jepang yang memeluk Islam. Dan hal ini terus bertambah sampai-sampai ulama Islam di Jepang sudah mengupayakan agar pemerintah Jepang membangun Islamic Centre untuk umat muslim Jepang. Di Eropa sebagaimana kita ketahui semakin banyak mualaf yang berani menampilkan dirinya berhijab yang menandakan dirinya adalah seorang muslimah sejati.
Orang-orang ini masuk Islam tidak serta merta atau ada proses kenapa mereka kemudian mantap dan memeluk Islam. Jika dalam agama lain para pemeluknya yang baru menyatakan bahwa ada tuhan atau dewa yang mendatangi mereka dan memerintahkan mereka meluk agama tertentu, maka para mualaf tidak demikian. Mereka biasanya adalah orang yang mengalami suatu titik terendah pada kehidupannya yang membuat dia mulai skeptis terhadap agamanya sendiri dan mulai mencari kebenaran. Semua agama dia pahami namun itu tidak memuaskannya sampai ia mengenal Islam dan memeluknya serta ditenangkan oleh Islam.

Tidak jarang pula para mualaf ini memeluk Islam setelah melihat bagaimana adilnya agama Islam dalam mempengaruhi segala aspek kehidupan pemeluknya sehingga mereka tertarik mempelajari Islam dan mulai mendalaminya yang diakhiri dengan memeluknya karena mendapatkan kebenaran serta ketenangan saat mempelajarinya. Inilah kebahagiaan yang didapatkan para mualaf setelah mempelajari Islam.

Walaupun demikian masih banyak para mualaf yang diperlakukan tidak adil dinegara-negara yang mayoritas non-Islam seperti misalnya di Prancis dimana Parlemen Prancis pada tahun 2012 sempat mengeluarkan Peraturan Pelarangan Hijab yang akhirnya dibatalkan karena menuai protes sekaligus merusak falsafah negara mereka yang menganut asas Kebebasan, Keadilan dan Persaudaraan. Atau saudara-saudara mualaf kita yang ada di Brazil yang sampai sekarang mendapat terror dari para preman kristen disana.

Ini menandakan bahwa dibalik sikap demokrasi yang dielu-elukan oleh para umat non-Islam, namun ada rasa frustasi dan rasa dendam disebabkan semakin hari semakin banyak umat Islam dinegara mayoritas non-Islam  sehingga mereka melakukan segala cara untuk melemahkan iman saudara mualaf kita. Namun imannya yang kuat kepada Allah SWT membuat mereka bertahan dan terus berjuang mempertahankan keislamannya.

Hidayah datang memang tidaklah terduga. Bahkan terkadang hidayah itu datang tiba-tiba dan hanya medatangi orang-orang yang memang sudah dipilih oleh Allah SWT untuk disadarkan siapa dirinya dan disadarkan untuk kembali kepada sang Khalik yang menciptakan. Hidayah ini bukan hanya milik umat Islam saja. Hidayah ini juga menyambangi para non-Islam untuk mengingatkan mereka kembali apa dan siapa dirinya itu dan kepada siapa seharusnya ia tunduk. Hidayah inilah yang menuntun mereka pada Islam dan menjadikan mereka mualaf.

Jazakumullahu Khairan Katsiran


Minggu, 07 Desember 2014

SUSUNAN KEPENGURUSAN BADAN TA’MIRUL MUSHOLLA ALADDINSYAH, S.H.
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERIODE 2014-2015


KETUA UMUM                                                       MUHAMMAD LUTHFY
SEKRETARIS UMUM                                           : KHAIRUL UMAM SY
WAKIL SEKRETARIS UMUM                            : BELA TITIS GANTIKA P.
BENDAHARA UMUM                                           : RINI ANGGREINI

WAKIL BENDAHARA UMUM                            : SUCI CITRA KARTIKA



DIVISI PENGEMBANGAN DAKWAH

KETUA DIVISI                                                        : SWANDHANA PRADIPTA
WAKIL KETUA DIVISI                                         :  RAIHAN
ANGGOTA                                                               :

SUSILO RAHARDJO                                                JAKA KELANA          
SAUFIE FITRA ARRIJAL                                        EDI PURWANTO
AMANDA SERENA                                                 ENDAH SUNDARI
ALINIDA                                                                   RIZKI
WAHYUNI SARAH BOROTAN                             MUHAMMAD ZIKRI
IMASTIAN CHAIRANDY SIREGAR                     LYLA
AKBAR                                                                      DEWI WAHYUNI
SUSI SUNDARI                                                        SITI RIZKY MIDANA
AINUL MARDIYAH                                                PEBRI YANDI LUBIS
HALIMAH Br. HUTAGAOL                                   ADILLAH RAHMAN
SA'BAN HUTAGAOL                                              WINDA APRILIA
KHALILA MUMTAZ                                               AMRUL MULIA DAULAY
HARIS RAHMAN                                                     INDRI



DIVISI KAJIAN KEILMUAN
KETUA DIVISI                                                        : NURLIZA CHAN
WAKIL KETUA DIVISI                                         : INDAH DEWI ELVIKA
ANGGOTA                                                               : 

DIKA EKA PUTRA                                                  AMALIA WILIANI
ARISANDHI SAFANA                                             LAILA FITRIYANI
ASRA SAPUTRA                                                      ASTRI PUTRI JUWANDA
EDIYANTO                                                               NINTHA SOEHAIYA
MUHAMMAD RIDHO                                             TRI NOVI FRIDAYANTI BUTAR-BUTAR
DIMAS PRATAMA HADINATA                            YOGI TRIYONO
ABDUL HARIS DALIMUNTHE                             SITI YOLANDA
MUHAMMAD KADAFI CARA                              SUCI PRATIWI 
SABRINA                                                                  EKA KARTIKA
PUTRI INDRA KHAIRUL                                       FITRI YANNI DEWI SIREGAR
YUSNI MARIANA LUBIS                                      REY KUSUMA



DIVISI HUMAS
KETUA DIVISI                                                        : FAISAL ANSHARI DWANA
WAKIL KETUA DIVISI                                         : CHAIRUNNISA FITRI SIREGAR
ANGGOTA                                                               :

JODIE IVAN RANDY                                               JUANGGA SAPUTRA DALIMUNTHE
MUHAMMAD NAZHIFI WILAR                            ROCKY PRIAMBUDI
AUZY ARIFIN HUTABARAT                                 JUANDA ARIZAL
SITI FATHIA ANNUR                                              MUHAMMAD IQBAL
LIAN WALESTRIANI                                              TANTRA PERDANA SANI
ANNISA SIKUMBANG                                            DENNY WAHYUDI
ELDI RIZKY                                                              HARIS SAPUTRA
RAY BACHTIAN RANGKUTI                                HADIAN CHOLIDIN Hp
LIGA SAPLENDRA GINTING                                NURANI RIZKI ANANDIA
AINI NIZARNI RANGKUTI                                    ALFI SYAHRIN NASUTION
PUTRI PRATIWI LUBIS                                          DIMAS HUZAIFAH
KURNIATI                                                                TEUKU MUHAMMAD RIZKY
NABILA YAN KHANSA                                         DESI SIREGAR
WAHYUZI                                                                KIKI PERTIWI
SYARAFINA RAHAYU                                          YERSA HASIBUAN
IRFAN FAUZI FIKRIAN BAHRI
PUTRI HABIBAH



DIVISI KEWIRAUSAHAAN
KETUA DIVISI                                                        : TAUFIQ HIDAYAT
WAKIL KETUA DIVISI                                         : MUHAMMAD ARIEF
ANGGOTA                                                               :

IQBAL FAUZAN                                                       ANGGIE R.K. HARAHAP
ANGGI MALONA NASUTION                               AGUNG FIRMANSYAH 
ADE IKHSAN SAUQI                                               BIMA ARMANDO 
RIFKI TANJUNG                                                      SRI RIZKY AMALA
MUTIARA CITRA                                                    PUTRI RAMADHANI
FAHLEFY                                                                  EKA RAHAYU
DITA LESTARI                                                         ANNISYAH
GIBRAN DASOEPANG                                            FAUZUL AKBAR SIREGAR
SOFYAN SYAHPUTRA SIREGAR                         ARIES RAHMAN FAUZY
AMALIA HANDAYANI HUTASUHUT



DIVISI KAJIAN KEPUTRIAN

KETUA DIVISI                                                        : DINDA MAURELOVA
WAKIL KETUA DIVISI                                         : ASTRI KHAIRISA
ANGGOTA                                                               :

FIKA NURUL AULIA                                              MELATI SEMBIRING
RABITHAH IRMA                                                    NURLIZA FITRIYANI ANGKAT
SAHARA                                                                   NURJANNAH NASUTION
SAHDINA ZAHRA PASARIBU                              NURUL HUDA FADILLAH
RIZKY DIAN SARI                                                  AIDILLA MAGHFIRAH
BALQIS SIAGIAN                                                    HUZAIFA YUSDA
LAILAN AZIZAH                                                     RIZKY AYUNISA DAULAY
PUTRI RAMADHANI                                              FEBRINA MAHYAR
NURUL FATIMAH                                                   FIRDAYANTI
EVI VERONIKA                                                       MINARSIH
PUTRI HABIBAH                                                     RAFIKA MAULINA
                                                                                    INTAN ANDINI PUTRI